Inggris dan teh merupakan dua hal yang mustahil untuk dipisahkan. Bagi masyarakat Britania Raya, teh bukan sekadar minuman penghilang dahaga, melainkan sebuah institusi sosial yang melambangkan identitas nasional. Budaya ngeteh telah mendarah daging dalam keseharian mereka, mulai dari pekerja konstruksi yang menikmati secangkir teh panas di pagi hari hingga kaum bangsawan yang merayakan sore hari dengan ritual yang anggun. Artikel ini akan mengupas tuntas evolusi budaya teh di Inggris, etiket yang menyertainya, serta mengapa tradisi ini tetap kokoh berdiri di tengah gempuran tren kopi modern.
Asal-Usul Teh di Tanah Inggris
Meskipun saat ini Inggris identik dengan teh, tanaman slot bandito ini sebenarnya tidak tumbuh secara alami di sana. Teh pertama kali masuk ke Inggris pada pertengahan abad ke-17 melalui para pedagang Belanda dan Portugis. Pada awalnya, teh merupakan barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kaum elit karena harganya yang sangat mahal akibat pajak impor yang tinggi.
Kepopuleran teh di kalangan bangsawan memuncak ketika Catherine dari Braganza, seorang putri asal Portugal yang menikah dengan Raja Charles II, membawa kegemarannya minum teh ke istana Inggris. Sebagai sosok pemberi pengaruh pada masanya, gaya hidup Catherine segera ditiru oleh para aristokrat. Sejak saat itu, teh berubah dari sekadar obat herbal menjadi minuman sosial kelas atas yang sangat prestisius.
Penemuan Tradisi Afternoon Tea yang Legendaris
Salah satu kontribusi Inggris paling terkenal bagi dunia kuliner adalah tradisi Afternoon Tea. Tradisi ini lahir pada tahun 1840 berkat Anna Maria Russell, yang memegang gelar Duchess of Bedford. Pada masa itu, masyarakat Inggris biasanya hanya makan dua kali sehari, yaitu sarapan dan makan malam yang larut sekitar pukul delapan malam.
Sang Duchess sering kali merasa lapar dan lemas pada sore hari sekitar pukul empat. Untuk mengatasinya, ia meminta pelayannya membawakan nampan berisi teh, roti lapis (sandwich), dan kue ke kamarnya. Karena merasa ritual ini sangat menyenangkan, ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung. Kebiasaan ini dengan cepat menyebar ke seluruh London dan menjadi sebuah acara sosial formal bagi kaum wanita kelas atas untuk bersosialisasi sambil memamerkan koleksi porselen mereka.
High Tea vs Afternoon Tea: Memahami Perbedaannya
Banyak orang, terutama wisatawan mancanegara, sering kali keliru menggunakan istilah High Tea untuk merujuk pada ritual teh yang mewah. Faktanya, kedua istilah ini memiliki latar belakang sejarah yang sangat berbeda:
-
Afternoon Tea: Tradisi ini berasal dari kelas atas. Mereka menikmatinya sambil duduk di kursi rendah atau sofa yang nyaman (sering disebut Low Tea). Menu utamanya meliputi kue kecil, scone, dan sandwich tipis tanpa pinggiran roti.
-
High Tea: Tradisi ini justru berasal dari kelas pekerja atau buruh pabrik pada masa Revolusi Industri. Setelah bekerja keras seharian, mereka pulang dan menikmati teh bersama makanan berat seperti daging, ikan, dan pai di meja makan yang tinggi. Jadi, High Tea sebenarnya lebih mirip dengan makan malam awal bagi rakyat jelata.
Scone dan Debat Besar Antara Devon dan Cornwall
Tidak ada Afternoon Tea yang lengkap tanpa kehadiran scone, yaitu roti cepat saji yang dinikmati dengan krim kental (clotted cream) dan selai. Namun, camilan sederhana ini sering kali memicu perdebatan sengit di Inggris mengenai urutan cara memakannya.
Masyarakat di wilayah Devon bersikeras bahwa seseorang harus mengoleskan krim terlebih dahulu, baru kemudian menumpuk selai di atasnya. Sebaliknya, warga Cornwall berpendapat bahwa selai harus menjadi dasar sebelum menutupnya dengan sesendok besar krim. Debat ini telah berlangsung selama berabad-abad dan tetap menjadi topik percakapan yang jenaka namun serius saat sesi ngeteh berlangsung.
Etiket Minum Teh yang Benar ala Inggris
Inggris sangat menghargai tata krama, terutama dalam ritual minum teh formal. Meskipun masyarakat modern saat ini lebih santai, ada beberapa aturan klasik yang masih dianggap sebagai standar kesopanan tingkat tinggi:
-
Cara Memegang Cangkir: Seseorang sebaiknya tidak melingkarkan jari pada cangkir. Cara yang benar adalah menjepit gagang cangkir dengan ibu jari dan jari telunjuk, tanpa perlu mengangkat jari kelingking secara berlebihan.
-
Mengaduk Teh: Saat mengaduk gula atau susu, jangan membuat gerakan memutar yang menghasilkan bunyi denting antara sendok dan dinding cangkir. Gerakan yang benar adalah menggerakkan sendok bolak-balik (atas-bawah) dengan lembut tanpa menyentuh pinggiran.
-
Susu atau Teh Lebih Dulu? Ini adalah pertanyaan klasik. Secara historis, orang menuangkan susu terlebih dahulu untuk mencegah porselen murah retak akibat air panas. Namun, bagi pengguna porselen berkualitas tinggi, mereka biasanya menuangkan teh terlebih dahulu agar bisa menyesuaikan jumlah susu dengan selera warna teh yang diinginkan.
Teh sebagai Simbol Nasional Selama Masa Perang
Budaya ngeteh di Inggris bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga soal semangat nasional. Selama Perang Dunia II, pemerintah Inggris menganggap pasokan teh sebagai kepentingan nasional yang vital. Mereka memahami bahwa secangkir teh panas mampu menjaga moral para tentara dan warga sipil di tengah ketakutan akan serangan udara.
Bahkan, pemerintah Inggris saat itu membeli hampir seluruh persediaan teh hitam yang ada di pasar dunia untuk memastikan tidak ada warga yang kekurangan teh. Hingga saat ini, tangki tempur Inggris seperti Challenger 2 masih memiliki fasilitas perebus air di dalamnya agar kru tank bisa menyeduh teh tanpa harus keluar dari kendaraan mereka. Hal ini membuktikan bahwa bagi orang Inggris, teh adalah bahan bakar utama untuk tetap tenang dalam situasi sulit.
Jenis Teh yang Paling Disukai di Inggris
Meskipun Inggris mengimpor teh dari seluruh penjuru dunia, mereka memiliki preferensi yang sangat spesifik. Sebagian besar warga Inggris lebih menyukai Teh Hitam yang kuat. Beberapa varian yang paling populer meliputi:
-
English Breakfast: Campuran teh hitam yang pekat dan kuat, biasanya diminum dengan banyak susu di pagi hari.
-
Earl Grey: Teh hitam yang mendapatkan aroma unik dari minyak kulit jeruk bergamot.
-
Builder’s Tea: Istilah untuk seduhan teh hitam yang sangat pekat, biasanya diseduh lama dengan kantong teh dan disajikan dalam mug besar dengan susu dan gula. Ini adalah minuman favorit para pekerja di Inggris.
Masa Depan Budaya Teh di Era Modern
Walaupun kedai kopi internasional kini menjamur di setiap sudut kota London, posisi teh tetap tidak tergoyahkan. Budaya ngeteh sedang mengalami modernisasi melalui munculnya Artisan Tea Houses yang menawarkan varian teh organik dan eksotis. Anak muda Inggris juga mulai mengeksplorasi manfaat kesehatan dari teh hijau dan teh herbal.
Namun, esensi dari tradisi ini tetap sama: teh adalah momen untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Ngeteh memberikan ruang bagi manusia untuk duduk bersama, berbicara, dan mempererat ikatan sosial. Di Inggris, sebuah masalah besar sering kali terasa lebih ringan setelah seseorang mengucapkan kalimat ajaib, “I’ll put the kettle on” (Saya akan menyalakan teko).
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Minuman dalam Cangkir
Budaya ngeteh di Inggris adalah warisan sejarah yang terus hidup dan beradaptasi. Ia mencerminkan perjalanan bangsa Inggris dari era kolonialisme, revolusi industri, hingga masa modern saat ini. Teh telah menyatukan raja dan rakyat jelata dalam satu kegemaran yang sama.
Keunikan budaya ngeteh ini terletak pada kesederhanaannya yang penuh makna. Apakah itu dinikmati dalam jamuan mewah di hotel bintang lima atau hanya sekadar seduhan sederhana di rumah, teh tetap menjadi simbol kehangatan dan ketenangan. Mempelajari budaya teh Inggris sama saja dengan mempelajari cara masyarakat Britania memandang hidup: dengan penuh kesabaran, tata krama, dan keteguhan hati di setiap sesapannya.